pada suatu sore yang gemulai, Felicia duduk di sebuah bangku taman yang letaknya tidak jauh dari rumah. semula berharap ada laba-laba atau kupu-kupu yang mengeriap menghiburnya, tapi sore sudah se-ma-kin temaram, dan tentunya senja di jauhan sana menjadi satu-satunya penghibur gadis kecil itu. Felicia, seorang gadis kecil yang penuh semangat, raut wajahnya tegar dan menyejukkan, sepintas mirip Ayane Kurihara *halah*. rambutnya dikucir kuda, ia mengenakan sweater lembut warna cokelat kelabu dan sepatu cokelat yang terlihat empuk dengan tali-tali yang bersimpul sangat rapi. matahari mulai terbenam dan meninggalkan siang, Felicia sadar bahwa sebelum gelap ia harus pulang dan menyiapkan teh hangat untuk ayahnya yang sebentar lagi pulang kerja, atau kadang ayahnya yang sangat ia sayangi ini pulang larut malam dan teh panas pun sudah dingin. Jika ayah pulang larut malam, Felicia akan tetap tidur karena besok paginya ia harus sekolah, dan teh yang dingin harus ia ganti dengan yang panas di pagi hari sebelum ia membangunkan ayahnya. ibu? ibu dan ayah Felicia telah bercerai. Felicia tinggal bersama ayahnya, kadang hanya seminggu sekali sang ibu berkunjung.
dan hari ini katanya ibu Felicia akan datang, maka Felicia memeriksa kembali pekerjaan rumahnya hari ini: mencuci baju, mencuci piring, nyapu, ngepel, menyiram bunga, dan lain-lain. Felicia tak ingin kelihatan malas di depan ibunya, ia harus mandiri, mengerjakan pekerjaan ringan dalam rumah.
bel pun berbunyi menjelang gelap malam. tanpa ragu lagi Felicia melompat dari sofa panjang menuju pintu depan, sejak tadi ia melihat televisi sendirian meskipun sebenarnya televisi itu tidak dinyalakan, hanya Felicia kelihatan menunggu sesuatu yang sangat ia nantikan: ibunya yang sangat ia cintai.
.
“hai, sayaaang!” ibu Felicia tampak ceria sekali, wajahnya tampak selalu seperti itu meskipun cahaya di luar sudah tak secerah sore tadi. ibu membawa sesuatu rupanya. apa itu? entahlah, itu sudah biasa dan tak perlu dipersoalkan.
“mamaaa!” Felicia memeluk wanita cantik yang dipanggilnya mama itu. dan mereka seperti anak perempuan dan ibunya pada umumnya. ye’is brow! pada umumnya.
***
di depan mereka di atas meja, ada banyak makanan, sambil menunggu ayah pulang. tak disentuh sedikitpun demi menunggu ayah pulang. dan karena yang ditunggu adalah kepulangan ayah, maka ayah pun pulang.
akhirnya kembali kepada sebuah meja makan.
“kalau boleh aku ingin mengajak Felicia bersamaku,” kata ibu.
“tentu boleh, tetapi bukankah sama saja, dan kurasa kau lebih sibuk daripada aku,” ayah menjelaskan.
“aku ingin mengajaknya ke Jepang, ke rumah orang tuaku.”
“tapi apakah kau yakin?”
“mungkin hanya setahun atau dua tahun, setelah itu aku akan kembalikan Felicia.”
“terserah Felicia saja, jika ia mau aku akan urus paspornya.”
Perbincangan ayah dan ibu itu menarik perhatian Felicia, dan betapa ia ingin sekali tinggal bersama ibunya di Jepang tempat neneknya. tapi untuk itu ia harus meninggalkan ayahnya.
*** next day ***
HARI INI ayah pulang agak malam, tampak lelah dan sepertinya ia mabuk. Felicia memeluk ayahnya yang kemudian sempoyongan dan terjatuh di lntai. Felicia menyeret ayahnya, namun ia tak kuat, dibiarkannya saja hingga ayahnya sedikit sadar dan bangkit. dengan keringat yang mengalir Felicia mengepel lantai bekas muntahan ayahnya. hingga kemudian ia lelah. membersihkan diri lalu membawakan teh hangat ke kamar ayahnya. ia memandang ayahnya, tak seperti biasanya. ayah mungkin frustasi. atau entah apa.
Felicia pun melihat dirinya di cermin.
“ma’afkan aku mama, aku tidak bisa meninggalkan ayah, mama mungkin bisa sendiri, tapi ayah tidak.” Felicia ngomong sendiri sambil menyeka air mata di pipinya.
Gunungkidul, 28 Juni 2011
Ditulis oleh Fian 
