Asrama Berdarah (Trilogy)

1 Februari 2011

Asrama Berdarah

by Alfian de Saputra on Wednesday, 21 July 2010 at 19:32
MALAM seakan mencekam, menyelimuti awang2. Denting pukul 12 malam dari jam kuno di aula sekolah membuatku terjaga, saat semua sedang tidur. Di asrama ini aku menetap, dan di sekolah ini aku mencari ilmu. Namun, semua menjadi memilukan saat seminggu yang lalu aku hrs kehilangan sahabatku dari asrama putri. Walau demikian, mungkin aku harus lbh berat melupakannya karena kematiaannya disebabkan oleh bunuh diri. Sophie, aku menyebutnya.
Hmm, aku tak pernah bisa menutup mataku lg. Aku melompat dari tempat tidur, mengambil laptop di locker. Saat kukembali dari lemari locker, kudapati perasaan yang aneh dalam diriku. Tiba2 hawa menjadi panas dan aku semakin ketakutan saat lampu di ujung lorong menyala berkedip. Aku berlari, berbelok menuju kamar asrama, tapi aku jatuh terjerembab. Untuk saja laptopku masih dalam dekapanku. Aku menghamburkan tempat sampah di depan pintu. Kubersihkan itu, dan tanpa sengaja kutemukan kertas lusuh yang berisi biodata. Tp, anehnya nama dalam catatan itu tak pernah kukenal: Sefia! Aku semakin terkejut ketika kubaca ia pelajar angkatan 10 tahun yg lalu. Kusimpan kertas lusuh itu.
Sampai di tempat tidur, aku menyalakan laptop. Seperti biasa aku membuka Facebook. Di areal ini ada hotspot gratis. Ada satu pemberitahuan baru, tapi tak kuhirauakan itu ketika mataku melihat status Sophie yg masih update, sktr 30 menit yg lalu: “Tolong aku, bongkarlah kebohongan itu. Tak ada bunuh diri. Aku dibunuh. Tolong, Sefia,” mendadak aku merinding, kutarik selimutku, kucoba menenangkan diri. Celaka, aku teringat catatan yg kusimpan tadi, Sefia. Sama dgn yg disebut Sophie. Ada apa dgn Sefia? Siapa dia? Dan apakah benar Sophie dibunuh? Perasaanku kacau, Satu jam aku ketakutan, namun aku segera mengendalikan diri. Kubuka catatan itu, aku cari di Facebook jelas tdk ada, itu 10 thn lalu, blm ada Facebook.
Keesokan paginya, aku ceritakan kisahku ini pada Keysha, Luna, dan Aldi. Mereka hampir tak mempercayaiku, tapi berhasil kuyakinkan dgn akun Facebook Sophie.

“Dietra, kita harus bertindak malam ini membongkar semua misteri ini,” kata Keysha kepadaku.Sebenarnya aku ragu, tapi karena sahabat2ku ini setuju, aku pun setuju.

**

Denting jam kuno di aula kembali terdengar, jam 12 malam. Kami berempat sepakat bertemu di aula jam 12 tanpa sepengetahuan orang lain, karena jika penjaga malam di sekolahan ini tahu, wah, bisa berabe kita. Aku tak lupa bawa laptopku. Sejak tadi sudah online FB. Kita akhirnya bingung sendiri karena tdk punya pentunjuk. Hanya dengan catatan yg kutemukan kemarin malam, kita bertindak. Di situ tercatat no induk si Sefia. Kita menyelinap ke kantor arsip. Ini memang konyol dan nekat. Tapi, demi persahabatan kita lakukan apapun… BERSAMBUNG KAPAN-KAPAN. CUNTHEL NDASKU.

Asrama Berdarah: Cinta Berujung Kematian (asrama berdarah part 2)

by Alfian de Saputra on Tuesday, 31 August 2010 at 23:11
Prekuel: Asrama Berdarah (part 1) 

Sepi itu mencekam, hampir membekukan langkah. Angin dingin pohonan tua diluar gedung menerasak masuk melalu celah atas jendela kelam. Ruang itu gelap. Ruang itu sunyi. Hanya senter kecil yang kami bawalah sumber cahaya di dalam. Ruang arsip yang berdiri puluhan tahun, usang, dan menyimpan ribuan misteri, baik yang menyedihkan atau yang membawa kesenangan, tapi aura kesedihanlah yang kurasakan bersama Keysha, Luna, dan Aldi di ruang gelap itu. Kami sengaja tidak menghidupkan lampu ruangan, karena selain tidak tahu tempat saklar, tentunya juga untuk mengantisipasi kecurigaan dari luar. Dan sekali lagi, hanya senter kecil.

“Guys,? Check this out! There’s a notification of Shopie’s stats, Oh, God, it’s imposible.” aku kaget ketika kubuka laptopku, ternyata dalam fb-ku, Shopie membalas komentarku dalam statusnya kemarin: Karena kutukan cemburu, aku mati. Seseorang cemburu 7 keturunan, Sefia ibu Jony dibunuh oleh iblis ini, karena tidak rela ayah Jony menikah dengan Sefia, kini siapa saja yang mendekati Jony, akan dibunuh iblis ini. Seperti itu komentarnya.
“God Damn, we have to clear this mistake.” kata Keysha.
“So uh, what are we going to do?” Luna seakan tidak punya kesempatan untuk berfikir.
“We can kill this demon” kata Aldi.
“Kill? So how?” aku memperjelas masalah. Bagaimana kita membunuh iblis ini.
This is not demon, but Ghost.

Tiba-tiba, angin bertiup menggerakkan kain jendela, kibasan itu lama-lama semakin besar, dan kini lemari-lemari besar berisi buku atau apa itu berhamburan isinya. Kaca jendela pecah, kursi, meja semua bergelantungan. Sosok putih berambut panjang muncul dari dinding putih di ujung ruangan, menyeramkan, matanya melotot seakan mau melompat dari tempatnya. Langkah kami seperti membeku, mulut kami terkunci, hamburan kertas dimana-mana, kami bahkan tak mampu mengeluarkan suara, apalagi teriak. Sosok itu mendekat, untung saja mata kami masih bisa terpejam, dan memang hanya itu yang bisa kami lakukan. Kami panik, kami tidak tahu lagi. Dan, sunyi.. BERSAMBUNG..

(karena suatu sebab)

Bagian Akhir:
Akhirnya semua kisah di atas berlalu begitu saja setelah pak Wan Way menemukan kunci perak yang digunakan untuk mengunci kutukan laknat itu..
Dan pada esok pagi yang cerah, para sahabat itu terbangun di rumah masing2..
Semua itu akan tetap menjadi kenangan dan pengalaman berharga :)

—-T-A-M-A-T—-

. Alfiance Pictures™


Sarang Hantu

31 Januari 2011

SARANG HANTU
by Alfian Dwi Saputra on Friday, 07 January 2011 at 13:27
Sudah hampir lupa sebenarnya aku dengan cerita kuno itu: cerita tentang beberapa hantu yang bersarang di rumpun bambu depan rumahku. Kini pohon-pohon bambu yang konon selalu ditancapkan bilah parang pada tanah di tengahnya itu sudah tak ada lagi, lenyap dan tinggal kisah sebuah pelataran kecil tempat penjemuran. Betapa aku selalu merinding dan tak dapat tidur setelah mendengar cerita malam tentang hantu-hantu itu terutama “wewe gombel” yang memaksaku untuk buru-buru sunat (asemik).

Begini ceritanya.. (deg-deg’an)
pada malam jum’at kliwon yang sepi dan memang selalu sepi, berjalanlah seorang anak perempuan bernama Lucy (nama samaran) pada sebuah jalan setapak yang lembab dan dipenuhi reruntuhan daun kering musim lalu. Jalan itu kecil dan melewati tepi dari rumpun bambu yang gelap dan usang bahkan tak ada suatu apapun yang melebihi pekatnya gelap malam waktu itu, hanya ada rembulan yang tertutup mendung, maklum belum ada listrik (waktu itu). Keringat dingin keluar dari tubuhnya, pikiran membeku, hati rasanya tidak karuan, jantung berdebar, nafas terengah-engah, kelam dan amat mencekam seperti dalam film Phobia, atau Ju-On, atau The Shutter, atau They Wait. Nyawanya hampir kaget karena apa yang dilihatnya: sesosok perempuan berambut panjang berbaju putih, muka pucat, lidah menjulur berlumuran darah, bergelantungan tali pocong (ini kata sandi dalam jurit malam pramuka, biasanya pas penerimaan ambalat. www.mantanBantara.com ).

Sosok itu melirik dengan mata melotot, seram sekali, kaki Lucy seperti berat untuk diangkat dan ia hanya mampu untuk mengucap satu kata dengan sisa tenaga yang sebenarnya tak ada sisa, “TOLOOOOONGG”, kemudian ia berkata “mayaaat”.. dalam kesunyian itu hantu mengerikan itu hanya diam dan seperti mengancam, Lucy pun sadar jika hantu itu tidak menjawab “mayat hidup” berarti sesungguhnya dia hantu beneran.

Lucy pun berlari pulang dan memendam kisah menyeramkan itu hingga ia tua. Dan di masa tuanya ia nantinya akan menceritakan pada cucunya, tentang sarang hantu di depan rumahku. (ya rumahku ini)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.